I’m a pharmacist

oleh: Helen Widaya, S.Farm., Apt*

Apoteker adalah Profesi yang Unik. Ruang lingkup terapan ilmu nya sangat luas. Bisa di lihat saat ini, Apoteker berada di berbagai lini. Di Industri, dunia akademik, Peneliti, dunia bisnis dan lain-lain. Di birokrasi? jangan di tanya lagi, tak sedikit ditemukan Apoteker-apoteker berprestasi.

Saat menulis ini, saya mencoba mengingat-ingat masa lebih kurang 10 tahun yang silam. Ketika pertama kali di tempatkan sebagai Apoteker d Puskesmas. Pada masa itu banyak yang bertanya-tanya, Apoteker di Puskesmas? Buat apa? Mau ngapain? toh Asisten apoteker saja sudah cukup. Sayang, yah… paling juga berjibaku dengan lumpang dan mengelola obat yang seadanya. Dan berbagai keheranan-keheranan lainnya yang pernah dilontarkan ketika seseorang tahu klo Saya di tugaskan disini. Ga apa-apa. Itu pemikiran wajar, karna memang pada saat itu jarang sekali Apoteker berada di posisi dimana Saya di tempatkan. Tapi, ada satu hal yang Saya tekad kan di hati “Ketika seorang Apoteker di tempatkan di Puskesmas, maka dunia Kefarmasian di Puskesmas tersebut harus berubah, karna ada sentuhan Profesional “. I’m a Pharmacist

Tahun pertama, saya benahi manajemen Pengelolaan Obat. Saya akui, ketika Saya hadir memang obat disini sudah terkelola cukup baik oleh Asisten Apoteker. Hanya saja, pada saat itu masih banyak sarana dan prasarana yang belum memenuhi syarat, resep yang tidak rasional, obat-obat yang keluar tanpa resep dokter dan maslah-masalah lainnya. Sembari menjalankan Aspek Manajerial kefarmasian, perlahan Saya juga coba terapkan Aspek Farmasi Klinis. Pelayanan Informasi Obat dan Konseling. Setiap obat yang di serahkan selalu disertai penjelasan. Pasien mulai merasakan manfaat nya. Kita tidak menunggu mereka bertanya, tapi kita yang pro aktif memberikan keterangan. Yang paling membahagiakan itu adalah, ketika setelah diberikan penjelasan terkait obat ,mereka sumbringah dan berterimakasih sambil menyalami. It’s Job Satisfaction,right?. I’m a Pharmacist

Menjalankan Peran sebagai Apoteker di Puskesmas bukanlah tanpa kendala. Kendala utama adalah tentang “Mind Set”. Perubahan Paradigma kefarmasian yang sudah beralih dari Drug Oriented menjadi Patient Oriented mungkin pada saat itu baru beredar dan dipahami oleh kalangan Apoteker saja, sehingga ketika kita terjun di lingkungan tenaga kesehatan lainnya, mereka masih berfikir bahwasanya Apoteker di pelayanan cukup tugasnya mengelola obat saja, menyerahkan obat, membuat laporan bulanan. Selesai. Sehingga apapun kegiatan di lapangan, seperti penyuluhan dan kegiatan pemberdayaan masyarakat, kita tidak perlu dilibatkan. Tidak ada ruang untuk itu. Kembali tekad selanjutnya saya munculkan “ Bukan Apoteker, jika tak ada semangat juang, dimana saya berlabuh, disitu saya bertumbuh”. I’m a Pharmacist

Advokasi dan Bina Suasana adalah ‘senjata’ yang saya gunakan untuk memasuki celah-celah cara pandang yang beragam. Dimana pun berada selalu saya upayakan untuk perkenalkan ‘ranah’ kita. Apoteker adalah tenaga kesehatan masyarakat, adalah Profesi yang sangat berperan penting dalam mewujudkan tercapainya misi pembangunan kesehatan, adalah tenaga yang juga berperan dalam mwujud MDG’s ataupun SDG’s nantinya.Kita tidak saja perkenalkan, tetapi kita juga berupaya membuktikan pentingnya peran profesi Apoteker. Saya berupaya untuk melakukan Sosialisasi, dimana pun ada kesempatan. Pun ketika saya mengikuti Perlombaan tenaga teladan untuk Kategori Tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat juga merupakan bagian dari “strategi” yang saya lakukan agar siapapun dapat mengenal Profesi yang saya cintai ini. Buah dari sgala upaya tersebut, sekarang Profesi Apoteker di Puskesmas telah memiliki ‘ruang’ yang luas. Di pemerintahan kita telah di fasilitasi untuk kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Kita juga sudah memiliki ruang Khusus untuk Konsultasi Obat. Bahkan Apresiasi itu tidak saja di dapatkan dari pemerintahan Kota, tapi juga Provinsi dan Kementrian Kesehatan. Mungkin apa yang saya lakukan belum banyak, tetapi setidak nya untuk saat ini, lebih kurang 1 dekade masa saya bertugas di Puskesmas, Apoteker telah dikenal oleh masyarakat, dan mereka telah memanggilku “ Ibu Apoteker”. I’m a Pharmacists

tiff infomation
Helen Widaya

Ridho akan takdir bukan berarti kita harus menjadi batu, tapi jadilah angin dan air yang terus bergerak, berhembus dan mengalir..menggerus batu-batu,mencari arah dan muara..
Silahkan saja untuk lelah dan letih, selama itu tidak menjadi alasan untuk lemah dan jerih, rehat dan beristirahatlah.. sampai semangat kembali mendidih..(Permana Benny)

Selamat Berkarya

*Penulis adalah Alumni Farmasi Unand Angkatan ’99 dan merupakan Apoteker pada Puskesmas Kurai Taji, Pariaman

Komentar

komentar